Jika
anda ingin bertanya lokasi wisata mana yang paling sering dikunjungi
wisatawan mancanegara baik yang menetap maupun yang hanya sekedar ingin
menikmati pemandangan alam dan tawaran uniknya yaitu konservasi teluk,
maka jawabannya adalah Kungkungan Bay Resort. Dipastikan hampir setiap
tamu penting kota yang datang ke Kota Bitung tidak pernah luput dari
undangan untuk menikmati langsung area konservasi teluk kungkungan
dimana resort ini berdiri.
Jika anda ingin melihat dan memberi makan ikan liar dilaut lepas tapi herannya ikan itu akan merapat kepada pengunjung apabila diberi makan roti maka untuk menikmati pemandangan langkah ini hanya akan dapat anda temukan di Kungkungan Bay Resort, Resort tertua dan yang pertama kali didirikan di Kota bitung bahkan mungkin di Sulawesi Utara. Pengalaman memberi makan ikan liar ini sendiri hanya ada satu-satunya di Sulawesi Utara dan tempatnya di Kungkungan Bay Resort. Anda cukup berbekal roti tawar beberapa potong dan melemparkannya ke permukaan air dari teras restoran yang memeng sudah berada diatas air, maka anda akan melihat ikan-ikan liar berebutan potongan roti didepan mata anda tanpa takut ditangkap.
Menikmati suguhan pemandangan alam dan selat lembeh yang indah dari teras restoran yang mengambang diatas air rasanya merupakan sebuah pengalaman yang jarang bisa diperoleh di tempat lain selain di Kungkungan Bay. Pengunjung yang memasuki areal resortpun tidak bisa sembarangan masuk karena memang teluk ini telah dijaga dan dipelihara secara ketat sejak puluhan tahun yang lalu sehingga nelayan kota Bitung-pun sudah tahu dan sadar bahwa teluk kungkungan adalah daerah konservasi yang dilarang untuk menangkap ikan bagi siapapun.
Tidak ada seutas jaring atau bahkan tali pembatas yang memisahkan antara perairan laut lepas dan teluk kungkungan. Semua ini terjadi karena komitmen yang sangat luar biasa dan merupakan karya nyata yang sangat berarti dari Gubernur Sulawesi Utara DR. S.H. Sarundajang yang meletakkan dasar ide ini diawal pembangunan Resort ketika beliau masih menjabat Walikota Bitung puluhan tahun yang lalu.
Jika anda ingin menikmati pemandangan langkah ini sekaligus menikmati tinggal dan beristirahat layaknya turis mancanegara maka tidaklah berlebihan kami katakan bahwa Kungkungan Bay resort adalah satu-satunya tujuan anda. Info lengkap dapat mengunjungi www.divekbr.com.
Harapan kami Konservasi teluk kungkungan kiranya dapat menjadi contoh dan anutan bagi warga sulawesi utara bahwa isu konservasi itu sangat besar artinya bagi kelestarian lingkungan alam laut sekitar kita. Dan di tahun 2012 ini pemerintah kota Bitung sedang berupaya untuk membentuk daerah-daerah baru untuk dijadikan areal konservasi sehingga ikan dapat diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang biak sehingga saatnya nanti dapat memberi kegunaan bagi masyarakat sekitar. - See more at: http://www.visitlembeh.com/artikel27-kungkungan-bay-resort,-the-only-one-conservation-resort-in-north-sulawesi.html#sthash.2tHpKzn7.dpuf
Jika anda ingin melihat dan memberi makan ikan liar dilaut lepas tapi herannya ikan itu akan merapat kepada pengunjung apabila diberi makan roti maka untuk menikmati pemandangan langkah ini hanya akan dapat anda temukan di Kungkungan Bay Resort, Resort tertua dan yang pertama kali didirikan di Kota bitung bahkan mungkin di Sulawesi Utara. Pengalaman memberi makan ikan liar ini sendiri hanya ada satu-satunya di Sulawesi Utara dan tempatnya di Kungkungan Bay Resort. Anda cukup berbekal roti tawar beberapa potong dan melemparkannya ke permukaan air dari teras restoran yang memeng sudah berada diatas air, maka anda akan melihat ikan-ikan liar berebutan potongan roti didepan mata anda tanpa takut ditangkap.
Menikmati suguhan pemandangan alam dan selat lembeh yang indah dari teras restoran yang mengambang diatas air rasanya merupakan sebuah pengalaman yang jarang bisa diperoleh di tempat lain selain di Kungkungan Bay. Pengunjung yang memasuki areal resortpun tidak bisa sembarangan masuk karena memang teluk ini telah dijaga dan dipelihara secara ketat sejak puluhan tahun yang lalu sehingga nelayan kota Bitung-pun sudah tahu dan sadar bahwa teluk kungkungan adalah daerah konservasi yang dilarang untuk menangkap ikan bagi siapapun.
Tidak ada seutas jaring atau bahkan tali pembatas yang memisahkan antara perairan laut lepas dan teluk kungkungan. Semua ini terjadi karena komitmen yang sangat luar biasa dan merupakan karya nyata yang sangat berarti dari Gubernur Sulawesi Utara DR. S.H. Sarundajang yang meletakkan dasar ide ini diawal pembangunan Resort ketika beliau masih menjabat Walikota Bitung puluhan tahun yang lalu.
Jika anda ingin menikmati pemandangan langkah ini sekaligus menikmati tinggal dan beristirahat layaknya turis mancanegara maka tidaklah berlebihan kami katakan bahwa Kungkungan Bay resort adalah satu-satunya tujuan anda. Info lengkap dapat mengunjungi www.divekbr.com.
Harapan kami Konservasi teluk kungkungan kiranya dapat menjadi contoh dan anutan bagi warga sulawesi utara bahwa isu konservasi itu sangat besar artinya bagi kelestarian lingkungan alam laut sekitar kita. Dan di tahun 2012 ini pemerintah kota Bitung sedang berupaya untuk membentuk daerah-daerah baru untuk dijadikan areal konservasi sehingga ikan dapat diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang biak sehingga saatnya nanti dapat memberi kegunaan bagi masyarakat sekitar. - See more at: http://www.visitlembeh.com/artikel27-kungkungan-bay-resort,-the-only-one-conservation-resort-in-north-sulawesi.html#sthash.2tHpKzn7.dpuf
Aer Prang, Sumber Air Peninggalan Jepang Masa Perang Dunia II di Kota Bitung
Aer Prang adalah salah satu lokasi situs budaya dan bersejarah yang ada di Kota Bitung bersebelahan dengan Kasawari Lembeh Resort. Mengapa dinamakan Aer Prang ? Karena menurut sejarah bahwa pada perang dunia kedua pada masa pendudukan Jepang dibangun dermaga untuk kapal pengangkut Jepang mengadakan pengisian atau pengambilan air segar, sebab dilokasi ini terdapat sumber mata air segar. Mata air segar yang ada di daerah ini merupakan sumber air bersih yang sampai sekarang masih digunakan, dari kejauhan sumber air bersih ini kelihatan seperti sebuah bangunan kayu tua dengan dermaga kecil didepannya. Uniknya, terdapat 3 titik selam yang mempesona dan terkenal di lokasi situs bersejarah Aer Prang ini. Pada sisi kiri dari dermaga ini terdapat titik selam Aer Prang 1 yang sangat terkenal bagi para divers.
Reruntuhan yang ada di sekitar daerah ini menawarkan kesempatan yang sangat baik bagi berbagai macam corak warna of Rhinopias untuk berkumpul. Lokasi ini juga merupakan tempat yang menarik bagi penyelam yang melakukan aktivitas penyelaman di malam hari karena kedangkalannya. Selain Rhinopias, di titik selam Aer Prang 1 bisa ditemui Bobbit Worm, Bobtail Squid, Stargazer, Mimic Octopus dan Wonderpus, dan berbagai jenis Nudibranch. Tepat di depan dermaga terdapat Situs selam Aer Prang 2. Di lokasi selam ini, merupakan lingkungan yang baik bagi spesies gurita karena lereng berpasirnya luas. Beberapa jenis nudibranch dapat ditemukan di perairan yang lebih dalam di mana karang gelembung berada. Selain critters yang cantik, penyelam juga bisa menikmati pemandangan indah bawah laut. Saat pasang naik, arus air biasanya kuat. Di situs selam ini biasanya terlihat Octopus, Banggai Cardinalfish, Finger Dragonet, Flatworm, Halgerda dan Wapfish.
Kapal Karam Jepang Peninggalan Perang Dunia II
Belum banyak orang yang tahu bahwa sebenarnya di perairan Selat Lembeh terdapat sebuah situs sejarah yang amat berharga yaitu sebuah bangkai kapal perang milik tentara jepang yang karam di perairan depan Kelurahan Mawali Kecamatan Lembeh Selatan Kota Bitung.Berdasarkan informasi yang dirangkum oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bitung, bangkai kapal perang tersebut adalah sebuah kapal suplai tentara kerajaan jepang yang terperangkap oleh patroli tentara sekutu yang kemudian diserang dan ditenggelamkan. Sebenarnya bangkai kapal perang yang ada di perairan Selat Lembeh sebenarnya ada di beberapa lokasi antara lain di Mawali dan di depan Perusahaan PT. Bimoli, akan tetapi bangkai yang di perairan depan PT. Bimoli sudah tidak berbentuk lagi dan berada dalam jarak kurang lebih 40 meter dalamnya yang sudah berada diluar jarak jangkau penyelaman wisata. Selain itu bangkai kapal di depan Bimoli-pun masih menyimpan bahan peledak yang sangat berbahaya apabila diusik oleh siapapun yang tidak menyadarinya.
Setelah dilakukan penelitian ke lokasi maka diperoleh informasi bahwa bangkai kapal yang terdapat di Kelurahan Mawali masih utuh dan berbentuk. Foto yang diambil oleh Barb Makohin dari Kungkungan Bay Resort diatas adalah bukti otentik bentuk dan besarannya. Bangkai kapal ini tergeletak miring namun masih dalam keadaan utuh dikedalaman 30-33 meter dibawah permukaan air sehingga bagi penyelam yang penasaran akan peninggalan sejarah ini pasti dapat melihatnya secara langsung. Jadi dapatlah dikatakan bahwa bangkai kapal perang jepang di depan Kelurahan Mawali ini merupakan satu-satunya bangkai kapal perang yang masih tersisa di seantero bumi propinsi sulawesi utara dan menjadi peninggalan sejarah yang amat berharga yang patut kita jaga dan lestarikan bersama.
Satu masalah utama yang sering terjadi adalah karena jarak jangkau penyelaman yang memungkinkan sehingg muncul peluang tindakan tidak terpuji oleh sekelompok oknum penyelam tradisional yang melakukan penyelaman manual dengan kompresor dengan tujuan untuk memotong badan besi kapal dan dijual ke tukang loak besi tua setempat padahal cara penyelaman yang serampangan tersebut sangat berisiko mati. Harga yang sebenarnya sangat mahal karena nilai sejarahnya kemudian oleh segelintir orang dirusak hanya untuk mendapatkan sekeping besi harganya sangat murah. Jika situs ini habis bangkainya dijadikan besi tua oleh oknum warga yang tidak bertanggung jawab maka dipastikan tidak ada lagi bukti sejarah aktual yang dapat diceritakan dan diperlihatkan kepada anak cucu kita dimasa yang akan datang bahwa sulawesi utara juga pernah ada pasukan tentara angkatan laut kerajaan jepang yang singah dan menjadikan pelabuhan bitung sebagai markas mereka selama masa penjajahan tersebut. Semoga warga masyarakat sadar dan bersama-sama menjaganya.
Tapak Terakhir Tentara Jepang Di Kota Bitung
Dalam Perang Pasifik ( Perang Dunia Ke II) Pelabuhan Bitung menjadi basis kekuatan tentara Jepang. Banyak tentara Jepang yang gugur dan dikuburkan di Bitung pada tahun 1942. Untuk mengenang peristiwa tersebut, Pemerintah Jepang bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia membangun monumen di Kelurahan Manembo-nembo Bawah Kecamatan Matuari, sekitar 7 km dari pusat kota pada tahun 1984. Lokasi ini dapat ditempuh dengan transportasi darat.Dengan menaiki 113 anak tangga pada puncaknya akan terdapat sebuah Batu Besar yang bertuliskan sebuah puisi huruf Jepang yang menggambarkan perjuangan tentara Jepang dimasa lalu. Panorama yang indah Kota Bitung dan Pulau Lembeh juga akan terlihat dari sudut pandang yang berbeda dari titik ini.
Kungkungan Bay Resort
Jika anda ingin bertanya lokasi wisata mana yang paling sering dikunjungi wisatawan mancanegara baik yang menetap maupun yang hanya sekedar ingin menikmati pemandangan alam dan tawaran uniknya yaitu konservasi teluk, maka jawabannya adalah Kungkungan Bay Resort. Dipastikan hampir setiap tamu penting kota yang datang ke Kota Bitung tidak pernah luput dari undangan untuk menikmati langsung area konservasi teluk kungkungan dimana resort ini berdiri.
Jika anda ingin melihat dan memberi makan ikan liar dilaut lepas tapi herannya ikan itu akan merapat kepada pengunjung apabila diberi makan roti maka untuk menikmati pemandangan langkah ini hanya akan dapat anda temukan di Kungkungan Bay Resort, Resort tertua dan yang pertama kali didirikan di Kota bitung bahkan mungkin di Sulawesi Utara. Pengalaman memberi makan ikan liar ini sendiri hanya ada satu-satunya di Sulawesi Utara dan tempatnya di Kungkungan Bay Resort. Anda cukup berbekal roti tawar beberapa potong dan melemparkannya ke permukaan air dari teras restoran yang memeng sudah berada diatas air, maka anda akan melihat ikan-ikan liar berebutan potongan roti didepan mata anda tanpa takut ditangkap.
Menikmati suguhan pemandangan alam dan selat lembeh yang indah dari teras restoran yang mengambang diatas air rasanya merupakan sebuah pengalaman yang jarang bisa diperoleh di tempat lain selain di Kungkungan Bay. Pengunjung yang memasuki areal resortpun tidak bisa sembarangan masuk karena memang teluk ini telah dijaga dan dipelihara secara ketat sejak puluhan tahun yang lalu sehingga nelayan kota Bitung-pun sudah tahu dan sadar bahwa teluk kungkungan adalah daerah konservasi yang dilarang untuk menangkap ikan bagi siapapun.
Tidak ada seutas jaring atau bahkan tali pembatas yang memisahkan antara perairan laut lepas dan teluk kungkungan. Semua ini terjadi karena komitmen yang sangat luar biasa dan merupakan karya nyata yang sangat berarti dari Gubernur Sulawesi Utara DR. S.H. Sarundajang yang meletakkan dasar ide ini diawal pembangunan Resort ketika beliau masih menjabat Walikota Bitung puluhan tahun yang lalu.
Jika anda ingin menikmati pemandangan langkah ini sekaligus menikmati tinggal dan beristirahat layaknya turis mancanegara maka tidaklah berlebihan kami katakan bahwa Kungkungan Bay resort adalah satu-satunya tujuan anda. Info lengkap dapat mengunjungi www.divekbr.com.
Harapan kami Konservasi teluk kungkungan kiranya dapat menjadi contoh dan anutan bagi warga sulawesi utara bahwa isu konservasi itu sangat besar artinya bagi kelestarian lingkungan alam laut sekitar kita. Dan di tahun 2012 ini pemerintah kota Bitung sedang berupaya untuk membentuk daerah-daerah baru untuk dijadikan areal konservasi sehingga ikan dapat diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang biak sehingga saatnya nanti dapat memberi kegunaan bagi masyarakat sekitar.

Tempat wisata di Bitung ini memang keren-keren banget. Ga nyesel pernah kesini dan pastinya pengen lagi balik kesini.
BalasHapus